Keterbatasan lahan dan sumber daya di kawasan perkotaan sering kali menjadi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan pangan mandiri. Menjawab tantangan tersebut, Dr. Taufiq Supriadi, Ketua RT 08/RW 04 Malaka Jaya, Jakarta Timur, sekaligus pendiri gerakan Survival Architecture Indonesia, membuktikan bahwa lahan sempit di tengah pemukiman padat dapat disulap menjadi ruang produktif yang bernilai tinggi melalui integrasi teknologi dan pengetahuan tepat guna.

Sebagai salah satu platform utama yang mempertemukan berbagai inovasi agroteknologi, INDOGRITECH Expo menghadirkan ruang bagi pelaku pertanian perkotaan (urban farming), penyedia teknologi, komunitas, serta pemangku kepentingan untuk saling terhubung dan berbagi solusi berkelanjutan.

Pengalaman dan semangat pemanfaatan teknologi ini diusung oleh gerakan Survival Architecture Indonesia yang dipelopori oleh Dr. Taufiq Supriadi di kawasan Malaka Jaya, Jakarta Timur. Gerakan ini memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan sekitar menjadi ruang budidaya produktif yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat harian.  

Dalam perjalanannya, Survival Architecture Indonesia mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) untuk sistem penyiraman otomatis, pemantauan aset tanaman melalui 16 titik CCTV, hingga efisiensi mekanis sederhana di lahan warga. Integrasi ini membuktikan bahwa teknologi pertanian cerdas dapat diterapkan dengan mudah hingga ke tingkat pemukiman terkecil.

Penerapan teknologi yang praktis dan ramah warga menjadi nilai kunci agar inovasi agrikultur dapat diterima dan dijalankan secara berdampingan oleh masyarakat luas.

Dukungan terhadap keberadaan wadah pameran teknologi agrikultur disampaikan langsung oleh Dr. Taufiq Supriadi, Founder of Survival Architecture Indonesia.

Menurutnya, pameran agroteknologi seperti INDOGRITECH Expo menjadi kesempatan penting untuk mempelajari berbagai teknik dan inovasi baru yang dapat diadaptasi pada skala pemukiman.

“Jadilah yang kita namakan Survival Architecture Indonesia, atau bagaimana cara bertahan hidup di Indonesia, sampai akhirnya kita memanfaatkan lahan yang terbatas hingga menjadi tambang emas yang belum kita manfaatkan dan menjadi berdaya.” — Dr. Taufiq Supriadi (Founder of Survival Architecture Indonesia)

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa integrasi teknologi dan pemanfaatan lahan sekecil apa pun memiliki peran besar dalam memperkuat ketahanan pangan nasional secara mandiri.

Melalui penyelenggaraannya, INDOGRITECH Expo terus menghadirkan ruang pertemuan bagi berbagai sektor dalam ekosistem pertanian, mulai dari machinery dan equipment, teknologi smart farming, benih, pupuk, hingga solusi pertanian berbasis komunitas.

Semangat kolaborasi dari para penggerak seperti Survival Architecture Indonesia menjadi bagian dari perjalanan INDOGRITECH dalam membangun koneksi antara penyedia solusi dan pelaku industri maupun masyarakat. 

Dengan semakin berkembangnya kebutuhan terhadap teknologi dan mekanisasi pertanian, INDOGRITECH 2026 kembali hadir untuk mempertemukan berbagai inovasi, solusi, dan peluang dalam satu ekosistem industri.

INDOGRITECH 2026 menjadi momentum untuk kembali memperluas koneksi, menemukan peluang baru, dan membangun kolaborasi yang dapat mendukung perkembangan sektor pertanian Indonesia.

Segera daftarkan diri Anda untuk menghadiri INDOGRITECH EXPO 2026 yang akan berlangsung pada 04–07 November 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City melalui tautan resmi igt.debindo-expo.com/registration. Dapatkan informasi dan pembaruan terbaru seputar pameran melalui situs www.indogritech.com serta akun Instagram resmi @indogritech dan Facebook Official INDOGRITECH Expo.